*Aplikasi Sixth Sense Power yang SALAH!

Posted on December 14, 2007. Filed under: Motivation | Tags: |

Menyambung artikel Aplikasi Sixth Sense turunkan NPL di Bank BRI pada website ini, saya akan ungkapkan 2 pengalaman menarik tentang aplikasi indra keenam yang salah. Dampaknya adalah, nasib sang aplikator sixth sense tersebut akan “buruk”. Berikut ini penjelasannya, berdasarkan “laku” pengalaman saya pribadi……..

 Pengalaman nyata pertama, ketika pada akhir tahun 1990-an, saya “belajar” berzikir secara khofi (dalam hati) selama beberapa hari di sebuah tempat di bilangan kompleks Arco Sawangan Bogor, tiba-tiba berkat karunia Allah dalam hati jadi dapat “membaca” hati seseorang, lalu saya katakan kepada orang tersebut tentang yang saya “lihat” tadi, serta saya beritahu “caranya”. Sehari setelah itu saya mendadak panas sangat tinggi, bahkan bebarapa obatpun tidak mempan. Setelah istighfar dan menyadari yang terjadi, tiba-tiba saja panas saya hilang setelah berzikir melingkar ba’da sholat isya bersama ratusan jamah lain. Ajaib sekali…..Ini pelajaran yang sangat berharga bagi saya  Pengalaman nyata kedua, rekan istri saya, sebut saja ibu X yang mempunyai indra keenam yang bisa “membaca” orang lain. Dalam hampir di setiap pertemuan, pengajian, ibu X ini sering langsung keceplosan bicara tentang sesuatu yang terjadi pada ibu lain, dan kadang-kadang terdengar juga oleh ibu-ibu lain, sehingga “rahasia” ibu tadi terungkap. Dia jadi malu, terlebih bila dirinya ada “problem” atau kisah negatif. Tetapi apa yang terjadi, nasib ibu ini sungguh sangat “terpuruk”. Hubungan dengan suami tidak harmonis, putri keduanya banyak bermasalah, sering marah dan emosional dan stress. Walapun punya sixth sense, tapi nasib ibu X ini “terpuruk”Sungguh sayang, ibu X ini tidak “memanfaatkan” kelebihan yang Tuhan berikan kepadanya untuk menggapai kebahagiaan keluarganya. Punya kelebihan bukan berarti nasibnya otomatis akan membaik, bukan? Apa yang sebenarnya terjadi?Menurut saya, kita tidak berhak “mencampuri” urusan Tuhan terhadap nasib yang Tuhan karuniakan (baca:berikan) kepada orang lain. Bila mana Tuhan memberikan nasib tertentu kepada seseorang, dan kita kebetulan “tahu” bahwa orang tersebut bernasib jelek, kita tidak berhak untuk “mengoreksi/memberitahu” kepadanya. Bukanlah ini mencampuri urusan Tuhan?. Kalau memang orang tadi tergerak untuk curhat atau bertanya kepada kita, berarti Tuhan menunjukkan jalan kepada orang tadi kepada kita, maka kita boleh memberitahu.Jadi secara hakikat, Tuhan memang akan mengubah nasib  orang tersebut, syariatnya melalui kita.Yang lebih ekstrim, seandainya anda merasa bahwa orang di hadapan anda, bahkan teman dekat anda, anda rasakan dia akan “celaka”, anda tidak berhak memberitahu dia. Kita hanya boleh bila “diminta” untuk “membaca” nasibnya. Menurut saya, kita boleh “mengubah” nasib orang lain, jika dan hanya jika orang tersebut dalam tanggung jawab kita, misalnya istri kita, anak-anak kita, serta staf dan karyawan di bawah manajemen kita, dll. Bagaimana dengan nasib bangsa ini yang “terpuruk”? Karena posisi saya tidak sebagai orang yang memegang pimpinan yang berhubungan dengan pemerintahan, tentu saya hanya berdoa, semoga saya dipertemukan dengan orang yang kompeten untuk mengubah nasib negeri ini, Dalam training sixth sense development, walaupun saya tahu kondisi/nasib peserta pelatihan, saya tidak memposisikan diri sebagai “cenayang”. Repotnya, semua peserta nanti bertanya “nasib” nya, sehingga pelatihan berubah menjadi “rumah dukun”. Saya bermaksud memberikan “ilmu” ini para semua  peserta, sehingga mereka sendiri mempunyai indra keenam yang dapat untuk meningkatkan atau mengubah nasibnya sehingga semakin membaik. Memang kadang-kadang dalam hati saya ingin bicara, tetapi melihat pengalaman yang telah saya alami di atas (berakibat negatif bagi saya), saya tidak bermaksud “mencampuri” urusan Tuhan (menganggu “sistem” yang ada) 

Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )

You must be logged in to post a comment.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...