*Why I learn NLP so “deep”, then teach NLP Applications?
Walaupun saya diperkenalkan NLP pada awal 1999 oleh Bpk Wiwoho ketika di CNI dan ditambah di Los Angeles oleh DR. Robert Simon Siegel (mempelajari NLP dari John Grider, Richard Bandler & Robert Dilts) pada tahun 2000, saat saya dikirim oleh perusahaan saya (PT.INTI Persero – Bandung) untuk join R&D dalam bidang software di USA selama 3 bulan untuk mengerjakan “Trunk Interface Software” di Texas dan Los Angeles (saya curi-curi waktu untuk belajar NLP di Santa Monica), tetap saja NLP is just for knowledge and minor personality improvement for myself…..….
Rupanya Tuhan menguji saya, pada tahun 2001, anak laki-laki saya saat itu kelas 5 SD stres berat, tidak mau sekolah selama 3 bulan. Begini kisahnya…..Karena gurunya sangat streng di sokalah, maka anak saya ini bermain Play Station (PS) sepulang dari sekolah di siang hari. Rupanya berbulan-bulan hal ini berlangsung. Begitu terampilnya anak ini bermain PS. Betapa tidak, setiap hari bermain sekitar 4 – 6 jam, kadang-kadang malah sering menunda makan malamnya. Nah, karena sakking sering seringnya main PS, gerakan atau refleks tangan menjadi semakin cepat melawan game ini, akhirnya anak saya terkena penyakit yang istilah psikologinya disebut dengan Tourette Syndrome atau Ticks, yaitu gerakan-gerakan tubuh yang tidak terkontrol (bergerak sendiri, seperti ”break dance”). Gerakan ini tentu saja berlanjut di kelasnya.
Tentu saja guru yang ”keras/streng” ini selalu mengingatkan ”Jangan gerak-gerak”. Tetapi apa yang terjadi? Semakin diperingatkan, dia semakin stres, dan gerakannya semakin banyak. Saya perhatikan, sekitar 5-6 detik sekali anak saya menggerakkan tangannya, kadang bahunya, kadang kakinya, kadang kepalanya dll. Dan sekali lagi, gerakan ini tanpa dapat di stop sepanjang hari, dari pagi hingga malam akan tidur. Betapa capek, stress dan frustasinya dia. Bayangkan saja, seorang anak umum 11 tahun…..
Sudah kami kirim ke ahli syaraf, hasilnya penyakitnya tidak kelihatan/tidak terdeteksi. Ujungnya, anak saya trauma sekolah, tidak mau sekolah. Ketika bangun pagi sebenarnya ingin sekolah. Setelah mandi (dalam kamar mandi selalu gaduh karena stres memukul-mukul bak mandi), dia menangis, tidak mau sekolah. Di mobil berangkat ke sekolah, mobil dipukul-pukul. Berontak, tidak mau sekolah. Trauma sekolah….
Bahkan sore haripun di luar waktu sekolah, dia teriak-teriak ketika kami coba lewat sekolah pakai mobil kami. Kami kirim ke 2 orang psikolog khusus untuk anak-anak, serta seorang psikiater, tetap saja hasilnya ”tidak ada” (tetap tidak mau sekolah). Ketika stress sangat berat, diberi obat penenang, tambah stress, tambah obat, dst. Saya tanya kepada psikolog; ”Bu, apakah anak saya dijamin bisa sembuh?” (maklum, saya adalah mantan tukang insinyur elektro ITB yang inginnya serba pasti). ”Tidak ada jaminan sembuh, kami hanya berusaha. Ada anak yang level stres-nya dibawah anak bapak, sudah 1 tahun tidak sekolah….””Oh my God!”, seru saya dalam hati. Ada apa ini? Mengapa bisa begini?
Bayangkan saja, di rumah sudah belasan piring dan gelas pecah karena ulahnya, dan dia ada niat untuk bunuh diri…….I am very painful…. The whole family are very stress….
Maka, saya ingat kembali materi NLP Practitioner saya ketika di LA dan P.Wiwoho, dan diam-diam saya bandingkan teknik NLP dan terapi psikolog ini. Saat itu saya menduga, secara teori, ilmu NLP lebih hebat. Tapi saya perlu bukti. Lalu saya berguru pada P.Agus Sunario (pakar NLP pada tahun-tahun awal 2000-an). Tetap saja saya kurang puas. Lalu saya searching di internet tentang buku-buku NLP serta video-viedo NLP dan Terapi Video (Richard Bandler dll) melalui Anglo-American di UK. Belasan juta saya investasikan untuk membeli puluhan buku-buku NLP serta terapi video.
Saya pelajari buku-buku NLP setiap malam sepulang dari kantor. Sambil juga saya belajar dari Anthony Robbins berkat kenalan saya dengan Bpk Tung Desem Waringin pada tahun 2001. Jadi, sambil mengirim anak saya ke psikolog/psikiater, saya pelajari benar apa itu NLP, termasuk berbagai teknik-teknik NLP dari Steve Andreas dari NLP Comprehensive.
Tepat setelah 3 bulan saya pelajari NLP dengan sangat intensif setiap malam dan sepanjang weekend, saya hentikan terapi anak saya dengan psikiater dan psikolog tadi, karena tidak ada hasil yang berarti. Malahan saya pernah konflik dengan seorang psikolog lulusan S2 USA, karena dia tidak bersedia memberikan tips-tips terapi. Saya makin termotivasi untuk menyembuhkan dengan NLP.Saya pernah ”sakit hati” dengan psikolog ini..
Saya makin termotivasi untuk menyembuhkan sendiri anak saya. The greatest motivation is gain pleasure or avoid pain……. Tentu saja, because of avoid pain of my child’s problem, I learn NLP so much and so deep…. Tahun 2002-2003 saya juga mengenal dan banyak tukar pikiran serta menggali NLP dari Bpk Stefanus Isacc Tamzil, NLP Master Practitioner sekaligus Master Trainer dari NLP University USA dan Bpk Syaiful Bahri, NLP Master Practitioner & Coach dari UK.Pak Stef dan Pak Syaiful, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan. Dari bapak-bapak saya tahu lebih mendalam tentang NLP ini. Setelah 3 minggu saya terapi sendiri anak saya ini, saya bersyukur hanya dalam waktu 3 minggu saya “reprogram” dan terapi, anak saya mau sekolah lagi (setelah ditangani oleh 3 orang psi… gagal selama 3 bulan!). Lalu saya kabarkan via email dan mailing list di USA, tanggapannya sungguh sangat positif dari mereka.
Banyak para NLP Practitioner, Master Practitioner dan bahkan doctor psikologi yang bertanya, bagaimana mungkin seorang anak yang terkena Toutrette Syndrom yang begitu berat, hanya dalam 3 minggu mau sekolah lagi? Setelah 6 bulan Ticks-nya sembuh, dan tahun 2007 dia sudah kelas 3 SMU sudah hidup sangat normal. Tanpa big problem anak saya, saya tidak akan mampu membagikan pengetahuan saya melalui website ini untuk anda. Alhamdulillah…….
Karena ilmu applied NLP ini sangat langka di Indionesia, maka saya terpanggil untuk ikut menyelesaikan permasalahan bangsa kita ini, sehingga pada tahun 2003 saya memutuskan untuk mengundurkan diri pada sebuag BUMN di Bandung, untuk membagikan ilmu NLP ini sebagai trainer sekaligus sebagai therapist, walaupun jabatan terakhir saya adalah Direktur Pendidikan & Pelatihan pada salah satu anak perusahaan BUMN tersebut, suatu jabatan yang cukup tinggi.
Maka, disamping sebagai trainer, saya juga membuka Klinik Hypnotherapy di Bandung dengan klien dari Bandung dan sekitarnya, bahkan dari Jakarta. Saya mempunyai belief, bahwa sepanjang “hardware” tubuh kita masih bagus (baca: tidak “gila”), maka kita dapat menginstal program sukses “software”-nya atau menyembuhkan masalah mental seseorang, dengan teknik-teknik powerful NLP dan Hypnosis. Sudah cukup banyak yang berhasil disembuhkan di klinik saya dengan metoda terapi NLP dan Hypnosis.
Stress, depresi, phobias, masalah kenakalan anak (parenting), gagap berbicara, kegemukan, tidak termotivasi, hentikan merokok, konflik keluarga, setiap malam mimpi buruk, tangan selalu berkeringat dingin, tidak ada semangat hidup, anak tidak mau belajar, tidak percaya diri public speaking, adalah sebagian yang sukses saya sembuhkan.
[...] artikel lain (Why I learn NLP so “deep”, then teach NLP Applications?), telah saya ungkapkan, bahwa motivasi saya mula-mula untuk mendalami NLP dan membeli puluhan buku NLP [...]
*What is Motivation? « NLP-HYPNO of Adhi Susilo
December 19, 2007